3.13.2011

Nilai Kebetawian Sebagai Identitas Masyarakat Jakarta (Part 1)

Citra Orang Betawi dalam Perspektif Firman. Nilai kebetawian ini merupakan gagasan ideal masyarakat Betawi terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Oleh karena itu, nilai kebetawian ini dapat pula dimanfaatkan masyarakat Betawi untuk menghadapi derasnya arus budaya global yang membanjiri masyarakat Jakarta melalui berbagai macam media. Sehingga hanya unsur-unsur budaya global yang berguna dan bermanfaat saja yang dapat kita kembangkan dalam kebudayaan kita.

Citra masyarakat Betawi yang digambarkan Firman Muntaco dalam sketsa-sketsa memperlihatkan sebuah kebudayaan etnis yang tahan banting. Dalam kondisi apa pun etnis Betawi ini tetap kukuh terhadap keyakinan dan pandangan hidup yang mereka anut. Nilai-nilai kebetawian yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Betawi melahirkan karakter yang tegas dan sabar pada diri orang Betawi.

Dalam sketsa-sketsa Firman Muntaco gambaran karakter di atas terlihat pada watak tokoh-tokoh dalam sketsa-sketsa yang tegas pendiriannya terhadap perbuatan curang dan merugikan masyarakat, seperti korupsi. Sementara kesabaran tampil dalam ketabahan tokoh-tokoh Firman Muntaco itu dalam menghadapi cobaan hidup, seperti kemiskinan dan kesusahan.

Walaupun hidup dalam kesusahan, orang Betawi tidak akan menjual keyakinan mereka. Sesuatu yang telah mereka anut sejak kecil tidak akan mudah pudar begitu saja hanya karena kesusahan atau iming-iming harta-benda. Kehidupan bagi orang Betawi adalah sebuah perjuangan dan kerja keras yang terus berlanjut hingga kematian tiba. Oleh karena itu, karakter pantang menyerah dan selalu mencari jalan keluar — bukan menghindarinya — dalam mengatasi masalah hidup menjadi kekuatan tersendiri masyarakat Betawi. Karakter ini juga melahirkan sifat berani menghadapi tantangan apa pun pada diri orang Betawi selama mereka meyakini apa yang mereka pilih itu benar.

Gambaran lain orang Betawi yang terlihat dalam karya-karya Firman Muntaco adalah sebuah penggambaran watak seorang manusia yang menghargai kejujuran dan keterbukaan. Kejujuran dan keterbukaan dalam masyarakat Betawi merupakan hal yang sangat esensial dan tampak dalam keseharian mereka, seperti terlihat dalam komunikasi mereka sehari-hari. Kejujuran masyarakat Betawi ini terlihat menonjol pada pola komunikasi mereka yang apa adanya, hampir jarang ditemui kata-kata untuk memperhalus maksud pembicaraan. Hitam dikatakan hitam, putih dikatakan putih, tidak dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi.

Keterbukaan masyarakat Betawi menghadirkan rasa toleransi yang tinggi mereka terhadap kaum pendatang. Hal ini sudah terjadi sejak beratus-ratus tahun yang lalu hingga kini. Keterbukaan ini pun membuat kebudayaan Betawi menjadi semakin semarak dengan masuknya unsur-unsur budaya kaum pendatang yang berasimilasi dengan kebudayaan Betawi sendiri. Keterbukaan ini membuat masyarakat Betawi tidak menutup diri terhadap kemajuan dan perkembangan kebudayaan dunia. Akan tetapi, tentunya hal ini bukan berarti mereka menerima begitu saja kebudayaan yang dibawa para pendatang itu. Mereka juga mengkritisi kebudayaan itu sebelum mereka terima dalam keseharian mereka. Hal ini diperlilhatkan Firman Muntaco pada kutipan berikut.

Kendati bapaknya sudah pantes jadi invetaris perang alias veteran Perang Dunia II lantaran si bapak awaknya sudah reyot. Tetapi kalau perkara semangat, dia kagak kalah dengan anak-anak muda, termasuk pendapet dan pendiriannya yang selalu berbau moderen. Begitulah profil pak Djuki jika diltilik sekelebatan.

“Babe pernah bilang supye aye bertindak maju alias moderen. Entar deh aye buktiiin, biar babe nonton…!” Rojak ngomong sembari gulung lengan bajunya. (BeM/7—13/10/84)

Pada kutipandi atas terlihat kemajuan berpikir seorang bapak tentang kemodernan tersebut. Lalu pada akhir cerita Orang Dulu ini terlihat seperti apa sikap orang tuanya Rojak ini terhadap pemikiran modern anaknya yang salah mengambil budaya asing tanpa memilah-milah lagi. Seperti terlihat pada perkataan Bapak Juki berikut.

“Haa…? Ooo, ini yang disebut kesenian modern?” Pak Juki kaget”

“Apenye yang yahut? Dandanannye kayak orang gile! Gayanye kayak orang teleng! Masih bagusan kuda lumping. Aduh Rojak. Rojak kenape pikran lu jadi nyngsang?” begitulah si babe sesambat sembari kapalenye godek. (BeM/7—13/10/84)

Keterbukaan dan kejujuran masyarakat Betawi dalam keseharian ini pun melahirkan sikap orang Betawi humoris. Hal ini mungkin terjadi untuk menghindari pertengkaran karena sikap terbuka dan jujur mereka yang mungkin akan melukai hati orang lain. Dengan humor setidaknya sikap jujur mereka terhadap perbuatan seseorang yang buruk hanya akan ditanggapi main-main atau hanya bercanda oleh orang itu, walaupun maksudnya menyindir perbuatan orang itu. Kelucuan masyarakat Betawi umumnya juga terjadi karena keluguan dan kepolosan sikap mereka terhadap situasi yang mereka hadapi.

Bahkan jika kita memperhatikan dunia hiburan saat ini, kita bisa mendapati jika model lawakan masyarakat Betawi banyak dimanfaatkan para komedian Indonesia, misalnya bentuk lawakan yang mengajak penontot terlibat seperti pada lenong atau topeng yang ditampilkan grup lawak Patrio akhir-akhir ini pada acara Neglaba di TPI. Hal ini bukan hanya karena masyarakat Betawi memiliki sense of humor yang tinggi, tetapi juga karena model humor masyarakat Betawi hadir karena kejujuran mereka, bukan dibuat-buat. Selain itu, model humor Betawi juga mengajak penonton untuk aktif dan terlibat langsung dalam pertunjukkan mereka, seperti terlihat pada pertunjukkan lenong.

Hal lain yang juga menunjukkan gambaran orang Betawi dalam karya-karya Firman Muntaco adalah rasa cinta mereka terhadap bangsa dan negara. Kecintaan terhadap negara pada masa kolonial dahulu ditampilkan dengan tidak bersekutu dengan pemerintah kolonial. Sementara kecintaan pada masa kemerdekaan mereka tampilkan dengan sikap yang mendukung pemerintahan yang sah Republik Indonesia, seperti ditampilkan dalam sketsa Pulang dari Senayan berikut.

“Waaaah banyak deh, macem-macem, ampir-ampir gue kagak inget betul, itu tuuuu…eee, belio sebut-sebut pekare: sikat anasir-anasir subversip, lalap neokolonialisme, papak kaum kontra-revolusi, terus gue sambung deh: pesiangin koruptor-koruptor, pak!”

“Akurrr!” nyeletuk bininya, “Itu memang yang penting! Eh, bang…nih kayak bangsenye tetangga kita nih di sebelah: masa orang-orang uplek rayain Tujuh belas Agustus, eh … die mah serumah-rumah buron ke puncak numpak sedan. Gile kagak tuh?” (BeM/18/08/63).

Walaupun masyarakat Betawi bersikap terbuka dan bisa dikatakan jika bahasa Betawi itu bersifat egaliter dan tidak memiliki tingkatan bahasa, seperti bahasa Jawa, orang Betawi tetap mengahargai orang yang lebih tua. Dalam keseharian, penghormatan terhadap orang yang lebih tua ini dihadirkan dalam sikap untuk memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada orang tua, sebelum yang muda-muda. Dalam bahasa atau omongan hal ini hadir dalam penyebutan diri mereka ketika berbicara pada orang yang lebih tua dengan tidak memakai kata ganti diri gue, tetapi kata ganti diri saye, aye atau menggunakan nama mereka sendiri.

Terakhir, dalam penggambaram Firman Muntaco orang Betawi adalah orang yang menghormati adat istiadat mereka dan sangat religius. Dalam masyarakat Betawi, adat istiadat mereka jalani secara konsekuen. Hampir seluruh adat istiadat masyarakat Betawi diwarnai oleh agama Islam. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat Betawi sangat taat terhadap ajaran agama yang mereka anut. Kereligiusan masyarakat Betawi ini tampak dalam adat istiadat mereka yang tidak pernah melepaskan unsur-unsur agama Islam dan sikap hidup sehari-hari mereka. Bahkan kereligiusan ini pun melahirkan sikap hidup masyarakat Betawi yang jujur dan sangat toleran. Ketoleranan inilah yang membuat mereka terbuka terhadap para pendatang dan hal inilah yang membuat para pendatang betah hidup di Jakarta karena keramahan penduduk aslinya.

Jadi, berdasarkan nilai-nilai kebetawian yang terlihat pada karya-karya Firman Muntaco, tergambarlah bahwa orang Betawi adalah sosok manusia Indonesia yang sangat mencintai negaranya, menghormati orang yang lebih tua, mengharagai adat istiadat, jujur, sabar, berani, humoris, terbuka, dan religius.

Bisa disimpulkan bahwa orang Betawi adalah orang yang teguh dan taat pada keyakinan, adat istiadat dan agama mereka, bersikap jujur dan menghormati orang tua, sabar dan berani dalam menghadapi tantangan hidup, berwatak humoris dan terbuka terhadap kemajuan, dan sangat teguh menjalankan agama Islam.

Sumber: http://mencos.wordpress.com/2010/10/07/nilai-kebetawian-sebagai-identitas-masyarakat-di-era-global/

Type your email here for subscribing this blog:

5 comments:

  1. Postingan anda hampir sama dengan postingan saya tentang Nilai KeWarok-an : Simbol Kota Reyog,, di forum anak ponorogo,, ponorogozone.com

    ReplyDelete
  2. numpang lewat bang,,,
    sempet mampir juga ke blog aye ya,,,,

    ReplyDelete
  3. Ternyata masih ada yang peduli dengan nilai kebetawian...
    Salut buat para pemuda yang ingin melestarikan budaya betawi...

    ReplyDelete
  4. Artikel yg menarik..kalau boleh ijin CoPas ya??

    ReplyDelete

Kalau kamu mau komentar tapi gak punya web, pilh aja bagian "Name/URL" trus di bagian name, tulis nama kamu. Di bagian URL, kamu kosongkan saja. Sebisa mungkin jangan pake anonim, karena bisa saja saya hapus.

Berkomentarlah "Sesuai Dengan Isi Posting". Terima kasih...