9.23.2011

Jawaban SMA 6 Jakarta Atas Tuduhan Pengeroyokan Terhadap Wartawan

Saya selaku alumni SMA 6 Jakarta sangat miris dan sedih melihat pemberitaan media yang terlalu lebay terhadap kasus hari Senin 19 September yang lalu. Dari media pun terlihat bahwa SMA 6 Jakarta hanya membela diri dari pemukulan yang dilakukan oleh massa yang mengaku wartawan terhadap beberapa siswa dan guru SMA 6 Jakarta. Namun yang muncul di media dan berkembang adalah sebaliknya, siswa yang mengeroyok wartawan. Ini kita membahas peristiwa Senin loh, yang hari Jumat kemarinnya lagi saya sangat tidak tahu-menahu. Berikut ini saya kutip jawaban dari pihak SMA 6 Jakarta yang saya ambil dari website SMA Negeri 6 Jakarta, supaya berita yang diterima masyarakat lebih berimbang.


(seorang siswa SMA 6 yang dicekik dan dikeroyok wartawan)


(seorang siswa SMA 6 Jakarta korban pengeroyokan wartawan)


(seorang wartawan berusaha menyerang Kepala Tata Usaha SMAN 6 namun berhasil ditangkis)


(seorang wartawan memulai provokasi dengan melemparkan mangkok soto ke arah siswa dan guru SMAN 6)


(salah seorang siswa SMA 6 yang terluka di hidung dan mulut)


(salah seorang siswa SMA 6 yang terluka matanya)


(salah seorang siswa SMA 6 yang terluka di bibir)


(salah seorang siswa SMA 6 yang terluka di dahi)


(seorang siswa SMA 6 Jakarta terluka parah)


HAK JAWAB/SANGGAHAN TERHADAP BERITA YANG DIMUAT DI MEDIA INTERNET

1. Tribunnews.com Senin, 19 September 2011

Foto dan Video Wartawan Identifikasi Pelaku Pengeroyokan

Kami membantah keras berita yang ditulis. Tidak terjadi pengeroyokan terhadap kelompok yang mengaku wartawan. Kami menyebut demikian karena tidak ada satupun dari mereka yang hadir menunjukkan kartu identitas sebagai wartawan dan tidak menggunakan atribut khusus, kecuali Bapak Panca menggunakan kemeja abu-abu, berlogo merah hati MI Media Indonesia. Yang terjadi adalah para wartawan telah memancing para siswa dengan kata-kata kotor/kasar/ejekan yang sangat tidak sopan. Bahkan, saat para siswa akan pulang, saat mereka menuju motor yang di parkir di depan sekolah, dan masih dalam kawalan polisi, seorang wartawan memukul wajah siswa dengan menggunakan helm. Hal tersebut tentu saja memancing emosi siswa. Siswa lain melakukan pembelaan terhadap teman mereka yang dipukul helm. Benturan tidak dapat terelakan. Tegas kami bantah, hal tersebut bukan pengeroyokan tapi pembelaan diri (saksi para polisi)

Wartawan melakukan unjuk simpati, semacam demo ± 50 orang, tanpa surat pemberitahuan ke pihak kepolisian. Hal tersebut tentu saja sudah menyalahi aturan yang berlaku. Tapi karena prinsip pelayanan masyarakat, manajemen sekolah menerima 6 perwakilan wartawan untuk bermufakat di ruang kepala sekolah (wartawan lain berada di luar sekolah). Dalam pertemuan tersebut telah terjadi kesepakatan dan titik temu antara sekolah dengan wartawan Tans 7, Saudara Oktaviardi, yang disetujui oleh kapolsek kebayoran Baru, Kapolres Jakarta Selatan, dan instansi terkait. Lalu para wartawan keluar dari SMAN 6. Namun sangat disesalkan, saat siswa akan pulang sekolah dengan dikawal oleh beberapa polisi, terjadi peristiwa yang ada pada paragraf 1.

Tidak hanya wartawan yang terluka tapi puluhan siswa kami juga terluka (foto, bukti lengkap, laporan telah kami lakukan ke pihak kepolisian). Bentrokan tidak dapat terelakan karena para wartawan telah memancing terlebih dahulu.

Seluruh kejadian/insiden tersebut disaksikan oleh banyak pihak, termasuk kepolisian. Kamera SMAN 6 pun merekam insiden tersebut.

2. Tribunnews.com

Lokasi SMAN 6 Harus Segera Dipindah

Mengenai keberadaan/lokasi SMAN 6 yang dikait-kaitkan dengan tawuran perlu dievaluasi kembali. Mengingat SMAN 6 juga sangat berprestasi dalam bidang-bidang lain. Baik akademik maupun nonakademik (data dan bukti dapat kami tunjukan). Tawuran yang dilakukan oleh sekelompok siswa jangan dijadikan alasan/dibesar-besarkan sehingga menjatuhkan SMAN 6, hingga harus dipindah.

Kami, manajemen sekolah, terus berupaya keras dalam menangani kasus tawuran ini. Guru-guru melakukan piket pagi dan sore hari, tidak hanya di lingkungan sekolah tapi juga sekitar sekolah. Bekerja sama dengan Binmas Polsek Kebayoran Baru dan Polres Jakarta Selatan, kami melakukan pembinaan dan kerja sa ma dengan mendirikan Pos Keamanan yang terletak antara SMAN 6 dan 70 agar dapat memantau siswa. Kami juga terus menegakkan tata tertib sekolah, sekaligus Sistem Reward and Punishment bagi siswa yang melanggar tata tertib.

Kami membantah tegas bila dikatakan hampir setiap hari terjadi tawuran. Bila demikian berarti dalam satu bulan terjadi sekitar 20 kali tawuran. Tolong tunjukan data untuk menguatkan pernyataan ini. Berdasarkan investigasi tim guru, ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memprovokasi siswa untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai aturan sekolah Kita semua tahu banyak pihak berkepentingan yang menginginkan lahan SMAN 6 bukan dari sudut pandang edukasi.

3. Tribunnews.com

Kepala Sekolah SMA 6 Cuma Diam

Kami membantah keras berita ini. Kepala SMAN 6, Jajaran Manajemen, dan para guru SMAN 6 Jakarta tidak pernah membiarkan, membenarkan adanya aksi kekerasan apapun yang melanggar aturan. Kami pendidik menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran, di bawah payung antara lain UU Sisdiknas No. 20/2003, Permendiknas No. 39/2008 dan Permendiknas Nomor 19/2007.

Dalam pertemuan pihak sekolah dengan wartawan Trans 7, Saudara Oktaviardi, disaksikan oleh beberapa wartawan, kapolsek kebayoran baru, dan Kapolres Jakarta Selatan telah ada kesepakatan/titik temu. Pihak sekolah tetap akan menelisik apa benar ada siswa SMAN 6 sebagai pelaku pengambilan kaset wartawan tetapi tidak menjamin dapat menemukan karena tidak ada identitas fisik yang jelas. Siswa yang bersangkutan, nantinya akan tetap diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Setelah itu, wartawan keluar sekolah dan telah disepakati tidak ada kontak fisik dan wawancara dengan para siswa saat siswa pulang sekolah. Sangat disesalkan, ketika siswa keluar sekolah, salah seorang wartawan di luar berteriak “Kalau berani jangan keroyokan, tapi satu lawan satu”. Hal tersebut memancing emosi para siswa. Tidak hanya itu, salah seorang wartawan lalu naik ke atap Pos Satpam SMAN 6. Karena terpancing, maka terjadilah bentrokan.

Kami secara tegas membantah pernyataan yang menuliskan bahwa pihak sekolah (para guru) tidak berbuat apa-apa. Seluruh guru, terutama guru laki-laki bersama pihak kepolisisan, serentak berusaha meredam kejadian ini. Bahkan dari pihak wartawan ada yang melempar mangkok beling yang mengenai guru dan polisi.

Bahkan saat siswa akan pulang/mengambil motor yang diparkir di depan sekolah, dengan disaksikan oleh pihak kepolisian, tiba-tiba, seorang wartawan memukul wajah siswa dengan helm. Akibatnya siswa tersebut terluka cukup parah di bagian wajah, terutama mulut.

Kami memiliki bukti data dan foto kejadian ini. Saksinya adalah dari pihak kepolisian.

4. Tribunnews.com

Wartawan Jadi korban pengeroyokan Siswa SMAN 6 Jakarta

Kami membantah tegas berita yang menyatakan bahwa kedatangan kelompok yang mengaku wartawan, kami menyebut demikian karena tidak ada satupun dari mereka yang hadir menunjukkan kartu identitas sebagai wartawan dan tidak menggunakan atribut khusus, kecuali Bapak Panca menggunakan kemeja abu-abu, berlogo merah hati MI Media Indonesia mendapat perlawanan dari ratusan siswa SMAN 6. Tepat pukul 11.30, , Ulangan Awal Semester 1 hari ketiga selesai. Seluruh siswa SMAN 6 pulang sekolah. Saat mereka berada di pintu gerbang, para wartawan yang sedang berdemo melakukan provokasi dengan kata-kata kasar/makian/tudingan/ bahkan melempar mangkok soto ke arah guru yang sedang mengawasi siswa. Bapak Deni mawardi terkena lemparan mangkok soto yang masih ada sotonya. Bahkan seorang polosi juga terkena. Hal tersebut tentu saja memancing beberapa siswa. Bentrokan tidak dapat dielakkan.

5. VIVAnews..com

Pria Diduga Wartawan Dianiaya Pelajar SMAN 6

Kami sangat keberatan terhadap isi berita yang ada. Dalam kejadian insiden sama sekali tidak ada siswa SMAN 6 yang menggunakan gir, bambu, dan gesper besi seperti yang dituliskan dalam berita. Sejak Kamis, 15 september 2011 sampai insiden terjadi, para siswa sedang melaksanakan Ulangan Awal Semester 1. Bentrokan tidak dapat dielakan karena para siswa terpancing oleh provokasi yang terlebih dahulu dilakukan oleh kelompok yang mengaku wartawan, Kami menyebut demikian karena tidak ada satupun dari mereka yang hadir menunjukkan kartu identitas sebagai wartawan dan tidak menggunakan atribut khusus, kecuali Bapak Panca menggunakan kemeja abu-abu, berlogo merah hati MI Media Indonesia. Provokasi tidak datang dari siswa. Seharusnyalah para wartawan menjunjung tinggi kode etik profesionalitas mereka.

Dalam pertemuan pihak sekolah dengan wartawan Trans 7, Saudara Oktaviardi, disaksikan oleh beberapa wartawan, kapolsek kebayoran baru, dan Kapolres Jakarta Selatan (Senin, 19 September 2011, sekitar jam 09.30) telah ada kesepakatan/titik temu. Pihak sekolah tetap akan mencari pelaku pengambilan kaset wartawan tetapi tidak menjamin dapat menemukannya. Jika ditemukan, tentunya siswa yang bersangkutan akan tetap diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Setelah itu, wartawan keluar sekolah dan telah disepakati tidak ada kontak fisik dan wawancara dengan para siswa saat siswa pulang sekolah. Sangat disesalkan, ketika siswa keluar sekolah, salah seorang wartawan di luar berteriak “Kalau berani jangan keroyokan, tapi satu lawan satu”. Hal tersebut memancing emosi para siswa. Tidak hanya itu, salah seorang wartawan lalu naik ke atap Pos Satpam SMAN 6. Karena terpancing, maka terjadilah bentrokan.

Kami secara tegas membantah pernyataan yang menuliskan bahwa pihak sekolah (para guru) tidak berbuat apa-apa. Seluruh guru, terutama guru laki-laki bersama pihak kepolisisan, serentak berusaha meredam kejadian ini. Bahkan dari pihak wartawan ada yang melempar mangkok soto yang mengenai guru dan polisi.

Bahkan saat siswa akan pulang/mengambil motor yang diparkir di depan sekolah, dengan disaksikan oleh pihak kepolisian, tiba-tiba, seorang wartawan memukul wajah siswa dengan helm. Akibatnya siswa tersebut terluka cukup parah di bagian wajah, terutama mulut. Dalam insiden tersebut puluhan siswa mengalami luka-luka.

6. KOMPAS.com

Siswa Anarkistis, Kepsek SMAN 6 Diam

Kami sangat keberatan terhadap isi berita tersebut. Dalam pertemuan pihak sekolah dengan wartawan Trans 7, Saudara Oktaviardi, disaksikan oleh beberapa wartawan, kapolsek kebayoran baru, dan Kapolres Jakarta Selatan (Senin, 19 September 2011, sekitar jam 09.30) telah ada kesepakatan/titik temu. Pihak sekolah tetap akan menelisik apa benar ada siswa SMAN 6 sebagai pelaku pengambilan kaset wartawan, tetapi pihak sekolah tidak menjamin dapat menemukannya karena tidak ada identitas fisik yang jelas.. Jika ditemukan, tentunya siswa yang bersangkutan akan tetap diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Setelah itu, wartawan keluar sekolah dan telah disepakati tidak ada kontak fisik dan wawancara dengan para siswa saat siswa pulang sekolah. Sangat disesalkan, ketika siswa keluar sekolah, salah seorang wartawan di luar berteriak “Kalau berani jangan keroyokan, tapi satu lawan satu”. Hal tersebut memancing emosi para siswa. Tidak hanya itu, salah seorang wartawan lalu naik ke atap Pos Satpam SMAN 6. Karena terpancing, maka terjadilah bentrokan.

Kami secara tegas membantah pernyataan yang menuliskan bahwa pihak sekolah (Kepala Sekolah dan para guru) tidak berbuat apa-apa. Seluruh guru, terutama guru laki-laki bersama pihak kepolisisan, serentak berusaha meredam kejadian ini. Bahkan dari pihak wartawan ada yang melempar mangkok soto yang masih ada sotonya, yang mengenai guru dan polisi. Tidak hanya itu, saat siswa akan pulang/mengambil motor yang diparkir di depan sekolah, dengan disaksikan oleh pihak kepolisian, tiba-tiba, seorang wartawan memukul wajah siswa dengan helm. Akibatnya siswa tersebut terluka cukup parah di bagian wajah, terutama mulut. Dalam insiden tersebut puluhan siswa mengalami luka-luka.

Kami juga sangat berkeberatan bila dikatakan siswa kami menghajar dengan menggunakan kayu, batu bata, bahkan senjata tajam. Hari itu, kami sedang melaksanakan Ulangan Awal Semester 1. para siswa tentunya sibuk belajar. Mereka hanya menggunakan apa yang ada dan itupun mereka lakukan sebagai perlawanan/ membela diri akibat para wartawan yang telah memprovokasi terlebih dahulu.

7. mediaindonesia.com

Kepala Sekolah SMAN 6 Lakukan Pembiaran

8. okezone.com

Siswa Bentrok dengan Wartawan, Kepsek SMAN 6 Cuek

Kami membantah dengan tegas pernyataan yang ada dalam berita-berita tersebut. Pihak sekolah, dalam hal ini Kepala Sekolah, mengutuk setiap perbuatan anarkis yang melangggar tata tertib sekolah. Jajaran Manajemen sekolah tidak pernah membiarkan, membenarkan adanya aksi kekerasan apapun yang melanggar aturan. Kami pendidik menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Di bawah payung hukum antara lain UU Sisdiknas No. 20/2003, Permendiknas No. 39/2008 dan Permendiknas Nomor 19/2007. Selama tiga tahun Saya menjabat Kepala Sekolah, sudah 31 siswa dikembalikan kepada orang tua mereka, sebagian besar karena melanggar tata tertib sekolah. Proses pengembalian siswa kepada orang tua tentunya sesuai dengan aturan tata tertib yang berlaku.

Tidak benar bila dikatakan bahwa Kepala Sekolah cuek dan seakan-akan melakukan pembiaran terhadap insiden tersebut. Kami, Manajemen Sekolah beserta guru dan karyawan, terjun langsung dalam menangani masalah ini. Bahkan guru-guru kami juga menjadi korban pelemparan mangkok soto oleh pihak wartawan.

Kelompok yang mengaku wartawan melakukan unjuk simpati, semacam demo ±50 orang, tanpa surat pemberitahuan ke pihak kepolisian. Hal tersebut tentu saja sudah menyalahi aturan yang berlaku. Tapi karena prinsip pelayanan masyarakat, Manajemen Sekolah menerima 6 perwakilan wartawan untuk bermufakat di ruang kepalas sekolah (wartawan lain berada di luar sekolah). Dalam pertemuan tersebut telah terjadi kesepakatan dan titik temu antara sekolah dengan wartawan Tans 7, Saudara Oktaviardi, yang disetujui oleh kapolsek kebayoran Baru, Kapolres Jakarta Selatan, dan instansi terkait. Lalu para wartawan keluar dari SMAN 6. Namun sangat disesalkan, saat siswa akan pulang sekolah dengan dikawal oleh beberapa polisi, terjadi peristiwa/insiden yang dipicu oleh pihak wartawan.

Tidak hanya wartawan yang terluka tapi puluhan siswa kami juga terluka (foto, bukti lengkap, laporan telah kami lakukan ke pihak kepolisian). Bentrokan tidak dapat terelakaan karena para wartawan telah memancing terlebih dahulu.

Seluruh kejadian/insiden tersebut disaksikan oleh banyak pihak, termasuk kepolisian. Kamera SMAN 6 pun merekam insiden tersebut.

9. REPUBLIKA.CO.ID

Pelajar SMA 6 Bawa Senjata Tajam untuk Bacok Wartawan

Kami sangat berkeberatan dan membantah keras dengan isi berita tersebut. Dalam kejadian insiden sama sekali tidak ada siswa SMAN 6 yang membawa apalagi mrnggunakan senjata tajam berupa parang dan golok yang tertulis dalam berita direncanakan untuk menyerang wartawan Jakarta selatan dan Mabes Polri yang berada di sekitar lokasi SMA 6. jelas itu suatu kebohongan besar. Justru ada guru dan polisi yang ikut menjadi korban terkena pelemparan mangkok soto oleh oknum wartawan. Foto yang ada dalam berita juga buka foto yang diambil saat insiden terjadi. Kami sendiri tidak mengetahui itu foto siswa mana. Yang jelas bukan siswa SMAN 6. Wartawan sangat sepihak dan tidak berdasar dalam menulis berita ini. Telah hilangkah kode etik jurnalistik wartawan?

10. REPUBLIKA.CO.ID

Inilah Kronologis Pengeroyokan Wartawan oleh Siswa SMA 6

Kami sangat keberatan dengan isi berita tersebut. Kamis, 15 september 2011 sampai insiden terjadi, para siswa sedang melaksanakan Ulangan Awal Semester 1. Bentrokan tidak dapat dielakan karena para siswa terpancing oleh provokasi yang terlebih dahulu dilakukan oleh kelompok yang mengaku wartawan. Kami menyebut demikian karena tidak ada satupun dari mereka yang hadir menunjukkan kartu identitas sebagai wartawan dan tidak menggunakan atribut khusus, kecuali Bapak Panca menggunakan kemeja abu-abu, berlogo merah hati MI Media Indonesia. Provokasi tidak datang dari siswa. Seharusnyalah para wartawan menjunjung tinggi kode etik profesionalitas mereka.

Dalam pertemuan pihak sekolah dengan wartawan Trans 7, Saudara Oktaviardi, disaksikan oleh beberapa wartawan, kapolsek kebayoran baru, dan Kapolres Jakarta Selatan (Senin, 19 September 2011, sekitar jam 09.30) telah ada kesepakatan/titik temu. Pihak sekolah tetap akan mencari pelaku pengambilan kaset wartawan tetapi tidak menjamin dapat menemukannya karena tidak ada identitas fisik yang . Jika ditemukan, tentunya siswa yang bersangkutan akan tetap diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Setelah itu, wartawan keluar sekolah dan telah disepakati tidak ada kontak fisik dan wawancara dengan para siswa saat siswa pulang sekolah. Sangat disesalkan, ketika siswa keluar sekolah, salah seorang wartawan di luar berteriak “Kalau berani jangan keroyokan, tapi satu lawan satu”. Hal tersebut memancing emosi para siswa. Tidak hanya itu, salah seorang wartawan lalu naik ke atap Pos Satpam SMAN 6. Karena terpancing, maka terjadilah bentrokan.

Kami secara tegas membantah pernyataan yang menuliskan bahwa pihak sekolah (para guru) tidak berbuat apa-apa. Seluruh guru, terutama guru laki-laki bersama pihak kepolisisan, serentak berusaha meredam kejadian ini. Bahkan dari pihak wartawan ada yang melempar mangkok beling yang mengenai guru dan polisi.

Bahkan saat siswa akan pulang/mengambil motor yang diparkir di depan sekolah, dengan disaksikan oleh pihak kepolisian, tiba-tiba, seorang wartawan memukul wajah siswa dengan helm. Akibatnya siswa tersebut terluka cukup parah di bagian wajah, terutama mulut. Dalam insiden tersebut puluhan siswa mengalami luka-luka.


SIARAN PERS SMAN 6 Jakarta

1. Terkait dengan peristiwa perampasan kaset wartawan trans 7 pada hari Jumat 16 september lalu, kami menyesalkan dan memohon maaf JIKA MEMANG TERBUKTI pelaku adalah anak didik kami di SMA 6. Kami mendukung sepenuhnya upaya penegakan hukum oleh kepolisian untuk mencari pelaku perampasan kaset. Jika terbukti pelakunya adalah murid SMA 6, kami akan tindak tegas sesuai peraturan yang ada. Kami juga telah berupaya transparan pada saudara Okta, dengan membantu mencari pelaku perampasan kaset peliputan. Senin lalu kami sudah memperlihatkan album foto seluruh murid SMU 6, agar saudara okta bisa mengidentifikasi pelaku JIKA MEMANG murid kami pelakunya.

2. Terkait peristiwa bentrok antara sejumlah murid SMA 6 dengan sejumlah wartawan, pada hari senin 19 september lalu, kami sangat menyesalkan adanya sejumlah wartawan yang semula berniat melakukan aksi damai di depan gerbang SMA 6.

Namun aksi damai dari teman-teman yang mengaku wartawan berubah menjadi, yang menurut kami aksi provokatif, dengan cara meneriaki guru dari balik pagar, dan juga menggoyang-goyang pagar sekolah, sampai memanjat pos satpam.

Bagaimanapun juga mohon dipahami , anak-anak murid kami masih remaja dengan emosi yang belum matang. Teriakan-teriakan dan aksi provokatif yang dilakukan teman-teman wartawanlah yang pada akhirnya memancing emosi anak murid kami.

Kami mendukung upaya polisi untuk menyelidiki siapa yang memprovokasi bentrokan pada hari senin lalu. Ke depan kami berupaya membina seluruh murid kami, agar tidak mudah terprovokasi dan terpancing emosinya.

Patut diketahui juga, pada bentrokan senin lalu tak hanya wartawan, 7 orang murid kami juga terluka. Bahkan 3 guru kami juga terluka dalam bentrokan tersebut. Salah satu guru kami juga terkena lemparan mangkok, yang kami duga menjadi awal bentrokan tersebut.

3.Kami menyadari tak mudah untuk menghentikan tawuran melibatkan sma 6 dan 70, tapi kami terus berupaya keras agar tawuran tak lagi terjadi. Bahkan kami mencatat frekuensi tawuran antara sma 6 dengan sma 70, menurun menjadi hanya 5 kali dalam 3 tahun terakhir. Namun sekali lagi kami bersama dengan kepolisian terus berupaya keras agar tawuran tak lagi terjadi.

Jakarta, 21 september 2011

Hormat kami

Dra. Kadarwati Mardiutama, M.Si
Kepala Sekolah SMA 6 Jakarta

Type your email here for subscribing this blog:

3 comments:

  1. Wah saya benar-benar mendapatkan informasi yang berimbang di sini gan, selama ini saya hanya nonton dari TV dan langsung berasumsi negatif terhadap para siswa, di sini saya mendapatkan informasi lain, terima kasih

    ReplyDelete
  2. oh jadi agan alumninya toh, agan ga malu punya adek kelas kayak gitu? udah keliatan dari mukanya muka kriminal

    Para siswa SMAN 6 Jkt (tdk semuanya) bodoh ya. Perilaku mereka malah jadi bumerang. Kalo mereka masih sering tawuran, sekolah mereka bakal dipindah. Yang kasihan malah adek-adek kelasnya dan orang2 yang mau sekolah di SMAN 6 Jkt.

    Sebetulnya yang bikin rusak SMAN 6 itu kebanyakan dari anak-anak gorasix (salah satu geng di SMAN 6), mereka mau aja dibodohin sama alumninya.

    Ane harap para anak SMAN6 menghargai profesi wartawan, kalo perlu dimasukkan dalam kurikulum SMAN6.

    Oh ya tips buat anak SMAN 6: jangan bikin ulah, jaga perilaku & emosi, jangan songong, dan hormati orang yang lebih tua.

    Jangan suka maen kroyokan, kalo berani satu lawan satu. Pada bonyok deh entar.

    Di sisi lain ane juga turut menyesali perilaku wartawan yang tidak sesuai dengan prosedur, bahkan melanggar aturan.

    Untuk SMAN 6 Jkt & sekolah2 lain yg suka tawuran, plis jangan mencemarkan dunia pendidikan Indonesia! malu-maluin bro

    Thanks,
    Anak baik-baik

    ReplyDelete
  3. harus x wartawan sebagai pihak yang lebih tua dan dewasa dari segi umur bisa menjaga sikap dan emosi di depan anak2 yang labil tsb....bukan nya memprovokasi apalagi menerbitkan pemberitaan memojokkan dan sangat tidak seimbang....
    Damai itu lebih baik.....

    ReplyDelete

Kalau kamu mau komentar tapi gak punya web, pilh aja bagian "Name/URL" trus di bagian name, tulis nama kamu. Di bagian URL, kamu kosongkan saja. Sebisa mungkin jangan pake anonim, karena bisa saja saya hapus.

Berkomentarlah "Sesuai Dengan Isi Posting". Terima kasih...